Bukan lagi kekasih ku

Posted by Rama Van Basten under
Sore ini masih kulihat semburat  kemerahan sang Mentari yang mulai tenggelam di garis cakrawala. Aku sendiri, menatap langit yang meredup kehilangan cahayanya sedikit demi sedikit. Masih terekam dalam ingatanku semua pertanyaan sangsimu padaku.
Apakah kita akan seperti ini terus, kau bertanya.
Aku tahu maksud pertanyaanmu tapi aku pura-pura tak tahu.
Kau pun berprasangka bahwa aku sudah tidak mencintaimu lagi.
Sesungguhnya kekasihku, aku pun tidak tahu-menahu apa itu arti cinta. Tahukah engkau?
Aku tahu kau dan aku terjebak. Kita berdua telah terlanjur masuk ke dalam kehidupan masing-masing tanpa ada lagi sekat. Tapi aku pun tahu aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa. Lebih tepatnya, aku tak mampu.
Bukankah dari awal pertama kedekatan kita aku telah memberitahumu. I don’t do commitment honey. Kau pun mengiyakan tak akan menuntut apapun dariku. Beginilah hidup yang aku inginkan, mengalir seperti air. Tapi semakin lama tampaknya kau semakin tak sabar.
Apakah gerangan kekasihku yang membuatmu jengah akhir-akhir ini, suatu kali aku pernah bertanya padamu.
Sesaat kau terdiam, dengan lembut kau kecup keningku dan mulai berkata.
Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa seseorang mencintaiku jika orang yang aku cintai pun pura-pura tak mengerti makna cinta.
Bagaimana aku bisa tahu seseorang ingin menghabiskan sisa waktunya denganku jika orang yang aku mau tak mampu berjanji setia.
Tahukah kau kekasihku, di balik senyum getirku menanggapi ucapanmu saat itu hatiku bergemuruh. Aku tak tahu bagaimana dan mengapa. Aku benci rasa itu. Dari dulu aku selalu menolaknya. Sebisa mungkin akan ku kubur hingga ke dasar bumi yang terdalam.
Tahukah kau kekasihku, kau satu-satunya orang yang dapat membuatku nyaman. Aku selalu ingin berada di dekatmu. Tapi mengapa di suatu pagi yang cerah, kau sempat menanyakan apakah aku bahagia berada di dekatmu. Tentu saja. Tapi aku tak sanggup bersuara, biarlah hanya menggema di dalam dada.
Tak bisakah kau lihat dari caraku memandangmu wahai kekasihku.
Tak bisakah kau rasakan dari caraku memperlakukanmu wahai kekasihku.
Aku kira setelah sekian lama kita bersama kau akan memahami bahwa setiap gerak-gerikku adalah ucapan kasih sayang. Kau hanya memelukku erat, seakan tak mengijinkanku pergi walau sedetikpun. Dan aku pun terbuai, tak ingin melepasmu.
Malam telah datang saat kita bertemu di taman itu. Hanya kita berdua, yang lain serasa hampa. Kau tak berbicara sepatah katapun semenjak kita bertemu. Aku termangu, tak ingin memulai pembicaraan. Dan kau pun hanya memandangi pohon mahoni yang tumbuh dengan gagahnya di pojok taman. Aku bertanya-tanya, apa yang ada di pikiranmu kala itu. Tapi aku sungkan, aku hanya mengawasimu dalam diam.
Gelap telah datang kekasihku, namun aku tetap tak mau beranjak. Tertunduk aku tak ingin melihat malam gelap jika tanpamu kekasihku. Lagi-lagi aku teringat percakapan kita sebulan yang lalu.
Untuk pertama kalinya aku memulai pembicaraan kita di tengah senja.
Jika kau ingin sebuah ikatan pasti yang mengikat, aku tidak masalah. Tapi tidak denganku. Carilah seseorang yang bisa memberimu cinta dan kepastian yang tak dapat aku berikan.
Kau seseorang yang menawan, cerdas, santun dan sempurna di mata setiap orang.
Tidakkah kau sadari itu kekasihku.
Kau bisa dapatkan siapapun yang kau suka.
Pilihlah salah satu diantara mereka yang kau anggap memenuhi kriteriamu.
Tiba-tiba kau menamparku, sangat keras. Aku terkejut.  Tidak, bukan hanya raga ini, tapi hingga ke lubuk hatiku yang paling dalam. Aku tergetar. Diam-diam aku menyesal. Tapi sekali lagi aku hanya menjadi budak dari keegoisanku sendiri. Aku hanya bisu melihatmu pergi tanpa pernah memintamu untuk kembali.
Tahukah kau kekasihku. Semenjak kejadian itu aku banyak merenung dan menghabiskan waktuku sendiri. Aku bertanya-tanya pada diri ini, mengapa aku tak bisa memberi apa yang kau pinta. Apakah aku telah termakan oleh sejarah hidupku sendiri. Aku hanya berkaca pada apa yang aku alami. Egoiskah itu?
Tengoklah ibuku yang menderita sepi di kala tua dan menahan hinaan di masa muda. Lihatlah ayahku yang selalu mencipratkan spermanya di banyak wanita tanpa memikirkan ibuku yang menahan luka. Aku tak ingin seperti mereka. Aku menyayangimu, sungguh aku tak berdusta. Tapi mengapa aku takut mengatakan cinta. Tak pernah terbersit di benakku untuk mencium bibir selain bibirmu duhai kekasihku. Tapi mengapa aku sulit untuk berkata setia. Kau menuntut ikatan yang lebih suci karena agama, demi bumi yang kupijak aku ingin bersumpah dan mengatakan “iya”. Namun aku hanya diam seribu bahasa.
Akupun tersadar. Seakan-akan aku baru terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Pikiranku kembali tenang dan waras. Sudah kumantapkan dalam hati, hari ini aku akan memberimu kejutan setelah sebulan lamanya tak bertemu. Kakiku ringan melangkah keluar dari rumah ini. Suatu saat kau akan ada disini hidup bersamaku. Bisikku dalam hati.
Aku membeli sebuah kotak perhiasan kecil yang aku selipkan sebuah cincin mungil seukuran jarimu. Aku juga berencana membeli bunga lili kesukaanmu, tapi kurasa itu berlebihan untuk sebuah kejutan dari seseorang seperti diriku.
Wahai kekasihku, tak tahukah kau pagi ini akan kukabulkan semua inginmu.
Wahai kekasihku, tak tahukah kau begitu bahagianya hatiku membayangkan reaksimu saat kuketuk pelan pintu rumahmu.
Gelap bergelung suram dan dingin menyerangku. Entah sudah berapa lama aku berdiri disini terpaku. Hanya ditemani oleh nyanyian serangga malam yang berselang-seling. Sekali lagi aku dikhianati kehidupan.
Tadi pagi baru aku tahu betapa egoisnya dirimu, bahkan melebihi keegoisanku. Betapa munafiknya dirimu, bahkan melebihi kemunafikanku. Kau jadikan abu semua kebulatan tekad yang aku bangun bersusah payah hanya dalam hitungan sepersekian detik.
Tak akan ada tangis untukmu kekasihku.
Tak akan ada sebutir air mata pun yang akan jatuh demimu.
Ragaku telah kau lumpuhkan.
Jiwaku telah kau cabut.
Lalu untuk apa lagi aku hidup.
Tapi ada yang ingin aku sampaikan kepadamu untuk terakhir kalinya kekasihku.
Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu.
Aku ingin menikahimu dan menghabiskan sisa waktu berdua denganmu.
Bukankah itu dulu yang selau kau inginkan.
Rintik-rintik kecil hujan datang tanpa permisi. Dapat kulihat bekas galian yang telah ditimbun tanah membentuk gundukan di sebelahku. Aku tahu aku tak mungkin terus berada disini. Sebuah ironi yang hambar, dulu kau yang takut kutinggalkan tapi kini kenyataan berkata sebaliknya. Tapi ijinkan aku menciummu kekasihku. Ijinkan aku mencium pusaramu untuk terakhir kali, sebelum aku pergi dari peristirahatanmu dan kembali sendiri.

0 komentar:

GREEN DAY VIDEO

My Blog List

Popular Posts

Pengikut